28 November, hari ini tepat 9 tahun yang lalu lahir seorang anak laki-laki.
28 November, hari yang sama dimana dia dikubur,
karena sudah meninggal di dalam kandungan selama 9 hari.
Saat itu umurnya masih sekitar 26 minggu atau sekitar 6 bulan 2 minggu.
Bisakah anda bayangkan, jelang mau 7 bulanan
saya dikabarkan dokter untuk terminate kehamilan saya
karena anak yang saya kandung mengidap penyakit Dandy Walker Syndrome.
Dandy Walker Syndrome ini merupakan suatu sindrom (kumpulan gejala)
yang terjadi pada seorang anak akibat tidak terbentuknya “pintu keluar”
cairan otak dari dalam kepala,
Dokter-dokter mengatakan bahwa penyakit ini terjadi pada anak-anak
dan berbeda dengan hidrosefalus
serta berakibat lebih buruk daripada hidrosefalus.
Hydrocephalus dalam bahasa latin yang artinya adalah kepala air,
hidrosefalus adalah keadaan dimana kepala manusia mengalami
peningkatan jumlah cairan didalam otak,
yang di sebabkan oleh penyumbatan cairan serebrospinal di dalam sistem ventrikel otak.
Sistem ventrikel di otak ini tugasnya untuk membuang cairan otak yang berlebih.
jadi jika cairan ini tidak di salurkan ke dalam tubuh maka mengakibatkan pembesaran kepala
dan selanjutnya akan menekan jaringan syaraf vital di otak.
Jika syaraf vital terganggu, maka anak itu bisa menjadi cacat atau bahkan meninggal.
Dandy walker syndrom lebih berat dampaknya daripada hidrosefalus.
Data menunjukkan bahwa pada ‘Dandy Walker Syndrome”
juga terdapat gangguan pada sistem jantung pembuluh darah,
sistem paru dan pernafasan, sistem ginjal dan lain-lain.
Kondisi ini menunjukkan bahwa telah terkadi kegagalan
pembentukan sistem organ yang kompleks dan hampir menyeluruh.
Astaghfirullah, Serem banget ya..
Di awal kehamilan, saat konsultasi ke dokter kandungan di rumah sakit tebet,
dokternya bilang, "Alhamdulillah, kehamilan ibu sekarang sudah menginjak 5 minggu.
InshaAllah kehamilannya sehat dan lancar perkiraan lahir sekitar bulan Maret ya."
Pertanyaan yang akan muncul adalah..
kenapa anak yang sudah dikandung selama 26 minggu baru akan dilakukan terminasi?
Jujur saat itu kami tidak menyangka akan terjadi seperti ini.
Karena seperti pasangan suami istri yang baru menikah pada umumnya,
tidak punya kekhawatiran apapun tentang suatu penyakit selama kehamilan.
Menginjak di bulan kedua kehamilan,,
pekerjaan suami juga masih belum terlalu stabil.
saat itu kami merasa biaya hidup di Jakarta,
dan juga biaya konsultasi ke dokter kandungan agak lumayan mahal.
Akhirnya kami memutuskan untuk memeriksakan kehamilan
hanya di bidan di daerah pasar minggu.
Setiap kali periksa biayanya cukup murah, sekitar 200 ribuan
sudah beserta vitamin dan alat untuk mendengarkan detak jantung.
Jadi di kehamilan bulan ke 3 dan 4, saya tidak lihat anak saya dari monitor USG
setiap kali memeriksakan kandungan ke bidan,
saya hanya mendengarkan detak jantungnya yang kencang
untuk menunjukkan kehadirannya di perut saya.
Padahal sebenarnya ukuran kepala janin yang tidak normal
bisa di lihat di umur kehamilan 4 atau 5 bulan.
jadi kemungkinan saya bisa membuat langkah pencegahan virus toksoplasma menyebar.
Menginjak bulan ke lima, saya kembali memeriksakan kehamilan
ke dokter kandungan, kali ini saya ganti dokter.
Namanya dokter Candra Asmuni di rumah sakit Duren Tiga Pancoran.
Dokternya baik, sangat komunikatif
dia sangat baik dalam menjelaskan tentang proses kehamilan.
waktu kehamilan anak kedua saya Aqilla, juga sama beliau.
Saat di USG tidak menunjukkan tanda-tanda adanya sesuatu yang mencurigakan.
Masih di kehamilan bulan ke lima, saya kembali konsultasi ke dokter kandungan
saat itu saya lagi pulang ke Samarinda untuk lebaran.
Sempat juga memeriksakan kandungan ke dokter Montessori.
Karena merasa perut agak sakit, mungkin kelelahan karena jalan ke rumah beberapa keluarga.
Saat itu juga di saat saya memeriksakan kandungan dengan USG,
tidak menunjukkan keanehan atau hal yang mencurigakan.
Dokternya bilang anak saya laki-laki.
Subhanallah, rasanya seneng banget.
Hingga pada suatu waktu, saat memeriksakan kehamilan 24 minggu atau 6 bulan.
Kabar buruk itu kami terima.
Saat membuka perut saya yang sudah hamil besar,
dokter Candra menunjukkan ekspresinya yang terlihat sangat sedih.
Saat itu juga, jantung saya langsung berdebar.
saya tanya, "kenapa dok, ada masalah dengan kandungan saya?"
Dokter Candra, dengan sangat hati-hati bilang ke saya
"mba Ello, maaf ya, ini saya melihat keanehan di kandungan mba.
saya coba ukur kepalanya tidak sesuai dengan umurnya saat ini.
Organ limpanya juga tampak membesar,
dan kelihatannya paru-parunya penuh dengan cairan.
suspect awal adalah hidrosefalus. tapi saya minta mba dan mas cek darah di lab yaa
untuk mengidentifikasi apakah prasangka saya salah,
dan ngecek apa ada penyakit lain. sabar ya mas.. mba.."
Saya mengingat dengan jelas, setiap kata yang di lontarkan oleh dr. Candra.
untuk sesaat saya terdiam.. ngerasa bingung..
hidrosefalus.. penyakit yang selama ini saya lihat di tv
akhirnya juga saya alami.
Rasanya jantung ini mau keluar dari tempatnya,
rasa senang akan punya bayi laki-laki itu hilang.
saya tanya, kenapa anak saya bisa mengidap sakit hidrosefalus dokter?
"Hidrosefalus adalah penyakit yang disebabkan oleh virus toksoplasma,
yang di bawa oleh kucing. tapi faktor pemicu lain
juga bisa dari makanan yang tidak sepenuhnya matang seperti steak, sate atau sushi.
jadi kemungkinan, virus ini sudah ada sebelum mba hamil.
jadi saat terjadi pembuahan, rahim ibu sudah terinveksi oleh virus ini."
MasyaAllah.. ternyata kegemaran saya terhadap kucing
sudah membawa dampak buruk ke kandungan.
karena memang saya biasa memelihara kucing kampung yang datang kerumah.
Dipelihara tapi tidak di berikan vaksinasi untuk mencegah virus.
dan yang membuat saya jadi tambah sedih,
virus toksoplasma yang mendiami rahim saya tidak bisa di sembuhkan, hanya bisa di jinakkan.
Waktu itu saya dan suami tes darah di lab Prodia
untuk memeriksa adanya TORCH
Yaitu pemeriksaan melalui 4 jenis tes, parasit Toxoplasma, virus Rubella,
Cytomegalovirus (CMV), dan virus Herpes.
Hasil dari pemeriksaan lab, memastikan anak saya memang mengidap
Dandy Walker Syndrome.
Oleh dokter Candra, kami disarankan untuk menghentikan kehamilan ini.
Karena jika dipertahankan juga tidak akan baik untuknya.
Kemungkinannya adalah anak ini bisa cacat atau bahkan meninggal.
Sebenarnya ada jalan lain untuk mengatasi hidrosefalus.
adalah dengan jalan operasi untuk mengganti saluran ventrikel di otak itu,
tapi sayang, operasinya masih belum tersedia di Indonesia.
adanya di luar negeri, yang terdekat adalah Singapur.
Pikiran yang terlintas saat itu adalah
bagaimana kami membiayai operasi di singapur dan ongkosnya?
Jika kami memaksakan untuk mengoperasi,
apakah ada kemungkinannya untuk bisa hidup normal sangat besar.
mengingat beberapa organ dalamnya tidak berkembang dengan sempurna.
yang terbayang adalah saya harus terus berhutang untuk membiayai perawatan anak
yang mengidap hidrosefalus.
Subhanallah..
dalam beberapa hari tidak ada yang bisa saya lakukan,
saya hanya berdiam diri, menangis
bingung antara terus memperjuangkan anak saya atau menuruti kata dokter?
Akhirnya kami berdua melakukan sholat istikharah,
kemudian memutuskan untuk menghentikan kehamilan tersebut.
Setelah itu segera saya diajak suami untuk melahirkan di Banyuwangi
dimana saya bisa menguburkan anak kami di makam keluarga.
Sesampainya di Banyuwangi,
atas anjuran ibu mertua, saya melahirkan di dokter Baryono.
Saat sampai di dokter ini, saya menjadi kaget dengan pernyataannya
ternyata anak saya sudah meninggal di kandungan sekitar 5 hari.
Allahu akbar..
Tiba-tiba ada perasaan campur aduk setelah mendengar ternyata
anak saya sudah meninggal 5 hari di kandungan,
Antara lega karena saya tidak perlu terlalu lama menderita menunggu anak ini lahir
dan meninggal dengan sendirinya.
tapi juga sedih karena saya kehilangan anak.
Tapi saya pikir, Allah mendengar doa saya
Allah maha mengetahui perasaan bersalah saya jika harus menghentikan kehamilan ini.
ternyata Allah sudah mengambil anak saya lebih dulu.
Dokter Baryono menyarankan saya untuk melahirkan secara normal,
Kata dokternya "jika di cesar. sayang perutnya masih muda
apalagi kan anaknya sudah enggak ada"
Mendengar anaknya sudah enggak ada, airmata saya mengalir tanpa bisa saya tahan.
selama 4 hari saya merasakan sakitnya 3 macam induksi
untuk merangsang otot perut agar bisa mengeluarkan anak ini.
Induksi yang di minum, induksi yang di suntikkan ke botol infus,
dan induksi yang di masukkan ke jalan lahir.
Ya Allah, sakitnya melahirkan rasanya tidak tertahankan,
tapi saya yakin dengan janji Allah,
rasa sakit yang dirasakan seorang ibu saat melahirkan bisa mengugurkan dosa-dosanya.
Aamiin..
Akhirnya di hari ke 4, anak itu lahir.
dan kami menamakannya Jeffry Arrayan Putra Setiadi.
Nama Jeffry, karena saat itu saya lagi menggandrungi ustadz Jeffri Albuchori
Sedangkan Arrayan, adalah pintu surga untuk orang yang senang berpuasa.
Setiadi adalah nama Suami.
Sayangnya saya tidak sempat melihat wajahnya, karena sudah di bungkus kain kafan.
tapi saya sempat menggondong tubuhnya yang hanya sepanjang 50 cm.
Sambil menangis saya katakan padanya
"Nak, saat di akhirat nanti, tunggu bunda dan tunjukkan jalan ke surga yaa.."
terus saya cium dia untuk beberapa lama,
sampai akhirnya suami mengambilnya dari tangan saya.
Mas Jeffry di kubur tepat di sebelah eyang kakungnya


Tidak ada komentar :
Posting Komentar
I am a full time mom, a network leader, and movie addict.
Sambil mengurus anak, bunda bisa berpenghasilan dari rumah.
Manfaatkan fasilitas internet untuk menjalankan bisnis Oriflame secara online
Jangan lupa beri komentar di bawah ini yaaa..
Komentar yang mengganggu, berbau SARA, porno, mengandung iklan dan mencantumkan link aktif akan segera kami hapus.
Terimakasih atas perhatiannya.